Say"Welcome to my zone"


widgeo.net

Tuesday, September 23, 2014

Lanjutan Untold Story


Part 3 Ketika Kebahagian Hati Lebih Penting...

Aku menjauh dari ruangan berisi meja dan kursi itu , berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah tergadah, lalu meninggalkan tempat yang penuh dengan tulisan-tulisan ilmu pengetahuan itu , menuju sebuah tempat yang indah dan berkumpul bersama mereka yang lelah lalu kami berteriak sekeras-kerasnya: AWWWW 


Begitu terbangun dari tidurku, aku masih bingung apakah itu benar-benar terjadi atau hanya ilusi pikiran. Rasa sakit cubitan panas itu memang sudah hilang namun bekasnya masih belum padahal sudah hampir seminggu. Untungnya aku sudah merasakan jurus itu dan berharap tidak mendapatkannya lagi.
Wah, TGIF! yah, hari jumat adalah hari yang singkat untuk waktu belajar karena jadwal pelajaran akan berakhir pada pukul 11.00 WIB. Namun, tidak dengan kami X IPA 1. Kami kembali akan melanjutkan pelajaran tambahan mesin pembunuh otak bernama ‘matematika’. Sebenarnya, matematika salah satu pelajaran favoritku hanya saja aku merasa mulai bosan dan jenuh dengan tingkat soalnya yang semakin sulit dilumpuhkan. Perlu diketahui, UTS pertamaku untuk pelajaran ini adalah nilai 20 (Agak pintar ya ) ! hanya benar satu dari lima soal. Tapi, aku tidak sendiri kok masih banyak beberapa yang dapat nilai fenomenal tersebut.
Bel yang bernada seperti tenor menandakan pelajaran berakhir. Berhubung hari jumat kami cowok yang beragama muslim pergi ke rumah Allah untuk menunaikan kewajiban sholat Jumu’ah. Sebelum pergi ke mesjid, kami makan bersama di kelas. Setiap hari, kami mendapatkan jatah makan siang dari restoran Paknas sebagai bekal untuk belajar di siang hari yang sumringah. Hari jumat adalah menu yang tidak favorit yakni telur gulai dengan ekstrak kuah santan yang susah untuk kudeskripsikan. Akhirnya aku hanya menyantap sayuran dan nasinya saja. Saya sangat salut juga dengan kelasku yang menerapkan budaya berdoa sebelum makan bersama. Selepas makan siang, kami yang muslim pergi ke mesjid.
13.30 WIB adalah waktu untuk memulai pelajaran tambahan serial materi pembunuh. Lagi-lagi ada angin segar yang merasuki pikiran. Alih-alih ingin melanjutkan les tambahan matematika, tak taunya malah menuju pantai WI yang dekat dari rumah Handan. Ternyata virus lelah ini untungnya bukan hanya aku yang merasakan bahkan murid sekaliber dan jenius Handan pun ikut andil dalam refreshing ini karena bujukan Dody. Aku lebih senang menyebut refreshing daripada cabut dari kelas. Lagi-lagi keadaan kelas pun agak sunyi karena tidak ada yang mengheboi lini masa suasana kelas. Tidak ada cowok yang tersisa di kelas dan semua diisi oleh bidadari dengan rambut mayang yang tak terurai. Guru matematika kami, sebut saja pak Rok Lee, termasuk orang yang tidak mempedulikan keadaan kelas. Terbukti kelas berjalan dengan aman bak badai yang berlalu. Sementara itu, kami refreshing di pantai yang tidak jauh dari burj Beringin. Rasanya menikmati semilir angin dan aroma pantai dapat mengobati rasa lelah yang kami rasakan dari pagi hingga sore setiap hari. Amos, Dody, Paul, Azhar dan lainnya terlihat begitu rileks merayakan momen tersebut.
Tampak dari titik fokus yang tidak terlalu jauh, aku melihat Handan yang sepertinya agak menaruh hati ingin kembali ke kelas. Melihat murid tercerdas itu agak sedikit mendiam diri, kami menyusulnya dan menanyakan apakah dia baik-baik saja bila cabut. Aku merasa bersalah juga sih mengajak murid multitalenta ini refreshing dari kelas yang mulai membosankan. Sebagai seorang teman, tentunya kami memberikan motivasi kepada Handan untuk enjoy the moment. Contohnya, Dody yang memberikan motivasi agar Handan harus menjadi nakal sesekali. Yah, meskipun motivasi dari kami agak-agak aneh tetapi sebuah jawaban muncul dari mulut murid yang juga pernah menjadi duta Almuslimin itu.
“Aku awalnya agak gak rela meninggalkan kelas matematika sih, tapi karena terlanjur udah di sini jadinya aku harus memang mencoba hal kayak gini. Kebahagian hati lebih utama daripada matematika itu sendiri”ujar Handan sembari mulai tertawa semi waras yang membuat kami sedikit was-was juga.
Itu adalah debut pertama aku cabut dari kelas dan itu juga merupakan debut Handan mulai menjadi orang yang paling baik mengasih kami contekan UTS dan UAS. 

“Sometimes you have to spend your time with your craziest friends to do bad stuffs in order to make you feel happy and free.”



No comments:

Post a Comment