Part 3 Ketika Kebahagian Hati Lebih Penting...
Aku
menjauh dari ruangan berisi meja dan kursi itu , berjalan mundur beberapa
langkah dengan wajah tergadah, lalu meninggalkan tempat yang penuh dengan
tulisan-tulisan ilmu pengetahuan itu , menuju sebuah tempat yang indah dan
berkumpul bersama mereka yang lelah lalu kami berteriak sekeras-kerasnya: AWWWW
Begitu terbangun dari tidurku, aku masih bingung
apakah itu benar-benar terjadi atau hanya ilusi pikiran. Rasa sakit cubitan panas itu memang sudah hilang namun bekasnya masih belum padahal sudah hampir seminggu. Untungnya aku sudah merasakan jurus itu dan berharap tidak mendapatkannya lagi.
Wah, TGIF! yah, hari jumat adalah hari yang singkat untuk waktu belajar karena jadwal pelajaran akan berakhir pada pukul 11.00 WIB. Namun, tidak dengan kami X IPA 1. Kami kembali akan melanjutkan pelajaran tambahan mesin pembunuh otak bernama ‘matematika’. Sebenarnya, matematika salah satu pelajaran favoritku hanya saja aku merasa mulai bosan dan jenuh dengan tingkat soalnya yang semakin sulit dilumpuhkan. Perlu diketahui, UTS pertamaku untuk pelajaran ini adalah nilai 20 (Agak pintar ya ) ! hanya benar satu dari lima soal. Tapi, aku tidak sendiri kok masih banyak beberapa yang dapat nilai fenomenal tersebut.
Wah, TGIF! yah, hari jumat adalah hari yang singkat untuk waktu belajar karena jadwal pelajaran akan berakhir pada pukul 11.00 WIB. Namun, tidak dengan kami X IPA 1. Kami kembali akan melanjutkan pelajaran tambahan mesin pembunuh otak bernama ‘matematika’. Sebenarnya, matematika salah satu pelajaran favoritku hanya saja aku merasa mulai bosan dan jenuh dengan tingkat soalnya yang semakin sulit dilumpuhkan. Perlu diketahui, UTS pertamaku untuk pelajaran ini adalah nilai 20 (Agak pintar ya ) ! hanya benar satu dari lima soal. Tapi, aku tidak sendiri kok masih banyak beberapa yang dapat nilai fenomenal tersebut.
Bel yang bernada seperti tenor menandakan pelajaran
berakhir. Berhubung hari jumat kami cowok yang beragama muslim pergi ke rumah
Allah untuk menunaikan kewajiban sholat Jumu’ah. Sebelum pergi ke mesjid, kami
makan bersama di kelas. Setiap hari, kami mendapatkan jatah makan siang dari
restoran Paknas sebagai bekal untuk belajar di siang hari yang
sumringah. Hari jumat adalah menu yang tidak favorit yakni telur gulai dengan
ekstrak kuah santan yang susah untuk kudeskripsikan. Akhirnya aku hanya
menyantap sayuran dan nasinya saja. Saya sangat salut juga dengan kelasku yang
menerapkan budaya berdoa sebelum makan bersama. Selepas makan siang, kami yang
muslim pergi ke mesjid.
13.30 WIB adalah waktu untuk memulai pelajaran
tambahan serial materi pembunuh. Lagi-lagi ada angin segar yang merasuki
pikiran. Alih-alih ingin melanjutkan les tambahan matematika, tak taunya malah
menuju pantai WI yang dekat dari rumah Handan. Ternyata virus lelah ini
untungnya bukan hanya aku yang merasakan bahkan murid sekaliber dan jenius Handan
pun ikut andil dalam refreshing ini karena bujukan Dody. Aku lebih
senang menyebut refreshing daripada cabut dari kelas. Lagi-lagi keadaan
kelas pun agak sunyi karena tidak ada yang mengheboi lini masa suasana kelas.
Tidak ada cowok yang tersisa di kelas dan semua diisi oleh bidadari dengan
rambut mayang yang tak terurai. Guru matematika kami, sebut saja pak Rok Lee,
termasuk orang yang tidak mempedulikan keadaan kelas. Terbukti kelas berjalan
dengan aman bak badai yang berlalu. Sementara itu, kami refreshing di pantai
yang tidak jauh dari burj Beringin. Rasanya menikmati semilir angin dan
aroma pantai dapat mengobati rasa lelah yang kami rasakan dari pagi hingga sore
setiap hari. Amos, Dody, Paul, Azhar dan lainnya terlihat begitu rileks
merayakan momen tersebut.
Tampak dari titik fokus yang tidak terlalu jauh,
aku melihat Handan yang sepertinya agak menaruh hati ingin kembali ke kelas.
Melihat murid tercerdas itu agak sedikit mendiam diri, kami menyusulnya dan
menanyakan apakah dia baik-baik saja bila cabut. Aku merasa bersalah juga sih
mengajak murid multitalenta ini refreshing dari kelas yang mulai
membosankan. Sebagai seorang teman, tentunya kami memberikan motivasi kepada
Handan untuk enjoy the moment. Contohnya, Dody yang memberikan motivasi
agar Handan harus menjadi nakal sesekali. Yah, meskipun motivasi dari kami
agak-agak aneh tetapi sebuah jawaban muncul dari mulut murid yang juga pernah
menjadi duta Almuslimin itu.
“Aku awalnya agak gak rela meninggalkan kelas
matematika sih, tapi karena terlanjur udah di sini jadinya aku harus memang
mencoba hal kayak gini. Kebahagian hati lebih utama daripada matematika itu
sendiri”ujar Handan sembari mulai tertawa semi waras yang membuat kami sedikit
was-was juga.
Itu adalah debut pertama aku cabut dari kelas dan
itu juga merupakan debut Handan mulai menjadi orang yang paling baik mengasih
kami contekan UTS dan UAS.
“Sometimes
you have to spend your time with your craziest friends to do bad stuffs in
order to make you feel happy and free.”
No comments:
Post a Comment