(24.07.2015)
Perjalananku ke Padang kali ini
cukup berbeda dari biasanya. Mobil itu akan tiba menjemputku pukul 20.00 WIB
kurang lebih begitu. Selalu merasa sedih kadang meninggalkan kampung halaman
karena udara asin laut sudah melekat dalam nadiku. Aku memeriksa kembali barang
yang akan kubawa ke bagasi mobil. Kulihat mata ibu berkaca-kaca ketika
melihatku yang sudah memasuki mobil. Aku pamit pada ibu, ayah, dan saudaraku.
Ketika hendak masuk mobil, aku kembali menyalam ibu. Kali ini kucium dan
kupeluk tubuhnya cukup lama. Mobilpun melaju menuju loket. Di sana saya
memperhatikan ada tiga turis asing yang sedang duduk dan sepertinya akan berada
di mobil ini. Beberapa saat kemudian, saya mengingat kunci rumah tertinggal
tetapi untungnya ibu dan abangku langsung mengantar ke loket yang tidak jauh
dari rumah dengan kereta (read:motor).
“Nan, ado bule bah.
Ajak mangecek beko yo.” Kata abangku sembari memberikan kunci
“Hmm. Iyolah bang ambo
cubo dulu.”timpalku
“Lamak lah yo ado kawan
anan mangecek beko.” Sambung ibu
“Yah, mudah-mudahan
bisa kenalan dan ngobrol beko mak.”balasku
Ketiga turis tersebut naik dan duduk
di kursi paling belakang. Subhanallah, ketiga turis itu sungguh cantik sekali bak
bidadari yang kurindukan (ahh.. lebay). Suara gas mobil pun sudah terdengar dan
kamipun berangkat meninggalkan kota Sibolga. Saat di mobil turis tersebut
berbicara dengan bahasa yang kupikir bahasa Russia karena bahasa dan aksen yang
aneh. Saat menikmati perjalanan, supir mobil bertanya kepadaku apakah aku bisa
bahasa inggris dan saya hanya membalas Insha Allah bisa sedikit bang. Satu jam
setelah perjalanan, supir menyuruhku untuk menyuruh ketiga turis tersebut untuk
turun sebentar karena ada barang yang cukup banyak dimasukkan ke bagasi dan mau
tidak mau seat mereka harus dinaikkan
sedikit.
“Excuse
me, Mam. Would you mind to go outside for a moment? The driver wants to package
these stuffs in baggage. I am afraid you won’t be comfortable since your seat
need to be lifted up.”ucapku
“Oh..
No.. What’s happening? We can’t move. We want here and we already pay much
money for this.” Sambung sang turis
“I
am truly sorry for you but I just deliver this message for you.”ujarku
Dengan wajah sedikit murung akhirnya mereka keluar.
Dengan sangat menyesal akupun minta maaf kepada mereka bertiga. Aku
memperkenalkan diri dan kamipun saling mengenal satu sama lain. Ketiga turis
itu bernama Linda, Russel, dan Sophie.Akupun bertanya kepada mereka berapa
jumlah uang yang mereka bayar untuk pergi ke bukit tinggi. Alangkah terkejutnya
mereka membayar masing-masing Rp. 300.000 sedangkan aku yang hanya ke Padang
hanya Rp. 170.000. Sangat disayangkan memang dengan perilaku si supir yang
mematok tarif tinggi untuk mereka. Hampir lupa, ternyata mereka dari Belanda
bukan dari Rusia seperti yang kupikirkan.
“Linda,
I think you should move here.” Sambil menunjuk bangku ke dua.
“I
want but this chair is broken and cannot be settled.” Keluh linda
Berbagai cara aku membujuk mereka
bertiga untuk duduk di kursi belakang supir dan akhirnya mereka bersedia. Linda
dan Sophie memiliki kaki nan jenjang sehingga mereka cukup kewalahan mangatur
posisi tidur. Aku kasihan melihat Linda yang duduk di kursi yang agak rusak.
Kutawarkan dia untuk duduk di depan tapi dia menolak dan tidak mau membuatku
tidak nyaman. Bang supir berterimakasih kepadaku karena dia bisa repot dengan
ketiga turis tersebut.
….
Dua
jam kemudian kami sampai di Sitinjak, akupun keluar dari mobil mencari toilet
karena sesak pipis yang kutahan. Linda dan Russel minta ditunjukkan di mana
toilet dan akupun menemani mereka ke toilet yang agak sedikit bau. Tidak
menyangka ternyata mereka sangat baik hati sekali. Kamipun berbincang cukup
lama dan semakin menyenangkan untuk berbicara.
“
Anan, we thank you for your kindness. We are helped by you.” Ungkap Sophie yang
memiliki wajah jutek.
“Ah,.
No problem Sophie.” Ujarku
Percakapan kami pun mengarah ke arah
sekolah, hobby, budaya dan agama. Linda menanyakan agamaku dan aku menjawab
Islam dan mereka menanyakanku hal-hal tentang ramadhan.
“
So you are Muslim, Anan. How was your fasting?”Ucap Russel
“Alhamdulillah
I did it full.”
“
Since when did you do fasting?”
“Since
I was child I practiced to do fasting and perhaps at the beginning I feel weak,
hungry and tired but it’s a truly and beautifulness of ramadhan.”
“Wow.
Amazing. What does Ramadhan mean to you?” Tanya Sophie.
“Hmm..
Ramadhan is a blessing month for me and every Muslims in the world. It’s not
just about no eat and drink but it also give us gratitude to the almighty God.
Many our sisters and brothers may not eat like the way we do. Ramadhan teaches
us to be thankful person for everything that we have in this world.” Kujelaskan
dengan seadanya.
Tampaknya mereka bertiga cukup
tertarik dengan agama Islam dan bertanya banyak tentang islam. Kemudian akupun
bertanya kepada mereka terkait agamanya dan akupun terdiam mendengar jawaban
mereka. Mereka tidak memiliki agama hanya sains yang mereka pikirkan. Kendati
begitu, aku berharap semoga mereka mendapat hidayah. Terlepas dari mereka yang
belum mengenal Tuhan, mereka adalah orang baik yang mungkin belum mendapat
hidayah.
…..
Perutku tiba-tiba lapar dan akupun
menagajak mereka makan. Alangkah kagetnya mereka memberiku kurma. Awalnya aku
bingung karena mereka mengatakan kurma dengan sebutan date. Ternyata setelah kucek kamus date bisa diartikan sebagai buah padang pasir yang dikenal dengan
sebutan kurma di Indonesia (walah-walah)
…..
Sepuluh jam berlalu sampailah di km
8 menuju Bukit Tinggi dan singgah sebentar untuk makan. Linda menanyakan berapa
jam lagi sampai ke Bukit dan aku menjelaskan bahwa kita sudah berada di daerah
bukit tinggi tapi belum sampai pusat kota dan akan memakan waktu 5 menit untuk
sampai. Saat menuju pusat kota, Linda menanyakan apakah café bedudul sudah buka
jam segini ( waktu itu jam menunjukkan pukul 8.00). Sebenarnya saya tidak tau
tentang café bedudul dan waktu buka café tersebut. Akhirnya saya gugling
Alhamdulillah ada ulasan mengenai café itu dan hari ini buka pukul 8.00 s,d
1.30.
“Linda,
Sophie, Russel.. we almost arrived at Jl. Ahmad Yani where bedudul café is
located.”kataku pada mereka
“Oh,
ya? Thank you Anan.” Ujar Linda
“What
will you do after here in Bukit Tinggi?”
“We
have plan go to Harau after this.” Sambung Sophie
“Ah,
How about you go to Padang?” Balasku
“Yes,
we want to Padang Anan. Maybe next week. May I have your number? I will call
you when I get there and we can hang out together.”Linda memberikan sebuah buku
Insha Allah jika tidak ada halangan
kami akan bertemu kembali minggu depan di Padang. Saya sangat terharu dengan
keramahan dan kebaikan mereka. Kamipun berpisah, tampak dari jauh mereka masih
mendada ke arahku. Oh,, Linda, Russel, Sophie kalian membuat perjalanku ke Padang
jadi menyenangkan. Di mobil tinggal dua orang penumpang tersisa. Aku merindukan
suara mereka yang kini sayup tidak terdengar lagi hilang dibawa oleh kecepatan.
No comments:
Post a Comment