Oleh : Hasnan Fiqri
(http://www.ganto.or.id/artikel/492/dialog-titian-keberagaman.html)
Senin
siang, Bandara Internasional Minangkabau. Deru mesin pesawat mulai terdengar.
Perlahan pesawat yang saya tumpangi mulai bergerak lambat dan bersiap
untuk take off. Pesawat terbang dan perjalanan pun dimulai.
Ini
adalah sebuah perjalanan baru, pelengkap cerita kehidupan yang berawal dari
sebuah postingan formulir aplikasi pendaftaran camp bertema dialog oleh salah
seorang senior di jejaring sosial. Oleh postingan tersebut, saya pun mencoba
peruntungan. Dan pada 20 Februari 2014, saya dinyatakan lulus menjadi peserta
Indonesian Youth Dialogue (IYD) Camp, pada 9-11 April 2014 di Bali.
IYD
merupakan komunitas pemuda Indonesia dengan visi mempromosikan dialog sebagai
sarana untuk menciptakan pemahaman dan kerja sama yang baik antarpemuda
Indonesia. Salah satu bentuk kegiatan IYD adalah IYD Camp. Bertujuan untuk
menanamkan semangat Bhineka Tunggal Ika dalam jiwa pemuda Indonesia.
Sesampainya
di lokasi camp IYD, Villa Pat Mase Jimbaran, saya berkenalan dengan panitia
serta 15 peserta lainnya. Setiap peserta datang dari berbagai daerah,
seperti Surabaya, Bali, Sunda, dan Sumatera. Kami menyatu oleh berbagai
perbedaan. Berbeda karakter, latar belakang, agama, dan kebudayaan. Suasana
malam waktu itu semakin mengakrabkan, saling bercerita dan berbagi pengalaman.
Hangat, larut, dan semakin menyatu oleh sebab keberagaman.
Pada
hari pertama, diawali dengan game perkenalan. Dilakukan dengan cara melemparkan
kertas berbentuk bola kepada peserta. Peserta yang kena lemparan akan
menyebutkan tiga nama dari peserta IYD, kemudian melemparkan lagi
ke peserta lain, begitu seterusnya. Makna dari permainan ini adalah aplikasi
sederhana sebuah dialog. Ketika percakapan terjadi, kita dituntut untuk
banyak mendengar agar pesan tersampaikan dengan baik.
Game
berikutnya adalah ship of hope, yaitu menuliskan satu kata yang menggambarkan
diri masing-masing pada potongan kertas kecil dan meletakkannya pada sebuah
perahu agar tidak berserakan apabila diterjang ombak. Permainan ini mengajarkan
kita agar dapat mencari celah untuk memperkuat harapan, yakni dengan saling
menghargai dan bekerja sama.
Agenda
selanjutnya adalah menceritakan diri dan keunikan daerah asal. Melalui dialog
pluralism ini, titian di antara kami semakin kuat. Kegiatan camp semakin seru
ketika kami membuat action plan untuk mengampanyekan dialog dalam menjaga
keharmonisan pemuda Indonesia.
Pada
malam harinya, ada sharing session bersama Dr. Alfred Munzer, seorang holocaust
survivor. Alfred membagi kisahnya tentang kenangan masa kecilnya yang dirawat
oleh seorang pekerja rumah tangga muslim yang berasal dari Indonesia, sementara
ia adalah Yahudi.
Pagi
datang bersama matahari yang bertahta di ufuk timur. Membangunkan kami untuk
bersiap mengikuti acara berikutnya, yaitu kuliah bersama Dr. Racelle R. Weimen
dari Dialogue Institute. Beliau memberikan materi tentang intention, yaitu
keyakinan kuat membangun hubungan baik dengan orang lain.
Acara
puncak IYD berlangsung pukul 19.00 WITA, mengenakan batik sebagai dresscode.
Sekitar 200 peserta talkshow dari Universitas di Bali turut meramaikan closing
ceremony. Acara penutupan disuguhkan dengan penyampaian materi tentang
pluralism.
Kami
kembali ke daerah masing-masing. Membawa banyak pelajaran dan pengalaman.
Belajar bahwa berbeda itu indah. Perbedaan tidak menghalangi kita untuk
berbagi. Berbagi mata untuk melihat dunia. Karena melalui mata seseorang,
kita bisa melihat berbagai hal yang tidak dapat dilihat melalui mata kita
sendiri.
No comments:
Post a Comment